Senin, 15 November 2010

fungsi hutan mangrove


Hutan mangrove memiliki berbagai macam fungsi. Menurut Rahmawaty (2006), beberapa fungsi yang dimiliki hutan mangrove adalah sebagai berikut:

a. Fungsi fisik; menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi (abrasi) dan intrusi air laut, peredam gelombang dan badai, penahan lumpur, penangkap sedimen, pengendali banjir, mengolah bahan limbah, penghasil detritus, memelihara kualitas air, penyerap CO2 dan penghasil O2 serta mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami.
b. Fungsi biologis; merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah untuk mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) dari berbagai biota laut, tempat bersarangnya burung, habitat alami bagi berbagai jenis biota, sumber plasma nutfah (hewan, tumbuhan dan mikroorganisme) dan pengontrol penyakit malaria.
c. Fungsi sosial ekonomi; sumber mata pencarian, produksi berbagai hasil hutan (kayu, arang, obat dan makanan), sumber bahan bangunan dan kerajinan, tempat wisata alam, objek pendidikan dan penelitian, areal pertambakan, tempat pembuatan garam dan areal perkebunan.

Sebagai contoh fungsi hutan mangrove, yaitu dalam mengurangi tingkat pencemaran logam berat di perairan. Dalam banyak penelitian menunjukkan bahwa pohon bakau (Rhizophora mucronata) dapat mengakumulasi tembaga (Cu), mangan (Mn), dan seng (Zn). Banus,1977 juga mengungkapkan bahwa hipokotil pohon bakau dapat mengakumulasi tembaga (Cu), besi (Fe), dan seng (Zn). Kemampuan vegetasi mangrove dalam mengakumulasi logam berat dapat dijadikan alternatif perlindungan perairan terhadap pencemaran logam berat (Onrizal, 2002).

Dalam kedudukannya sebagai suatu ekosistem antara darat dan lautan, hutan mangrove memiliki peranan menjaga keseimbangan biota laut dan darat. Hutan mangrove merupakan lingkungan hidup yang baik bagi petumbuhan udang, tempat berlindung nener (benih) ikan bandeng, dan sebagai tempat penggantian kulit kepiting (Scylla serrata), rajungan (Neptunus palagicus), yang semuanya itu merupakan potensi produktivitas laut (MacKinnon, et al., 2000).

Seluruh fauna yang hidup di dalam ekositem hutan mangrove mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekologi. Sekian banyak fauna yang hidup terdapat beberapa spesies kunci (keystone species) yang memegang peranan yang sangat penting. Salah satu spesies tersebut adalah kepiting yang hidup di dalam ekosistem mangrove. Kepiting diusulkan sebagai keystone species di kawasan hutan mangrove karena setiap aktivitasnya mempunyai pengaruh utama pada berbagai proses paras ekosistem. Peran kepiting di dalam ekosistem hutan mangrove diantaranya mengkonversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi, meningkatkan distribusi oksigen di dalam tanah, membantu daur hidup karbon, serta tempat penyedia makanan alami bagi berbagai jenis biota perairan (Prianto, 2007).

sumber : jurnal yang ditulis oleh Syaiful Eddy, S.Si (Dosen Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas PGRI Palembang)

ekosistem hutan mangrove



Istilah mangrove berasal dari istilah yang digunakan untuk salah satu vegetasi hutan mangrove yaitu Rhizophora sp (bakau). Menurut MacKinnon dkk. (2000) hutan mangrove adalah nama kolektif untuk vegetasi pohon yang menempati pantai berlumpur di dalam wilayah pasang surut, dari tingkat air pasang tertinggi sampai tingkat air surut terendah. Hutan mangrove hanya terdapat di pantai yang kekuatan ombaknya terpecah oleh penghalang berupa pasir, terumbu karang atau pulau. Ekosistem hutan mangrove dapat dibedakan dalam tiga tipe utama yaitu bentuk pantai/delta, bentuk muara sungai/laguna dan bentuk pulau. Ketiga tipe tersebut semuanya terwakili di Indonesia. Menurut Khazali (2005), kondisi pantai yang baik untuk ditumbuhi vegetasi hutan mangrove adalah pantai yang mempunyai sifat-sifat; air tenang/ombak tidak besar, air payau, mengandung endapan lumpur dan lereng endapan tidak lebih dari 0,25 - 0,50%.

Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia menurut Bengen (2002) dalam Fachrul (2007) adalah sebagai berikut:

1. Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia sp. Pada zona ini biasa berasosiasi dengan Sonneratia sp yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.

2. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora sp. Pada zona ini juga dijumpai Bruguiera sp dan Xylocarpus sp.

3. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera sp.

4. Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi nipah (Nypa fructicans) dan beberapa spesies palem lainnya.

Menurut Nybakken (1982) hutan mangrove di Indonesia memilliki keanekaragaman yang terbesar di dunia. Komunitas mangrove membentuk pencampuran antara dua kelompok, yaitu kelompok fauna daratan /terestial (arboreal) yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove dan kelompok fauna perairan /akuatik. Beberapa hewan tinggal di atas pohon sebagian lain di antara akar dan lumpur sekitarnya. Walaupun banyak hewan yang tinggal sepanjang tahun, habitat mangrove penting pula untuk pengunjung yang hanya sementara waktu saja, seperti burung yang menggunakan dahan mangrove untuk bertengger atau membuat sarangnya tetapi mencari makan di daratan yang jauh dari habitat mangrove.

Kelompok hewan arboreal yang hidup di atas daratan seperti serangga, ular pohon, primata dan burung yang tidak sepanjang hidupnya berada di habitat mangrove, tidak perlu beradaptasi dengan kondisi pasang surut. Burung-burung dari daerah daratan menemukan sumber makanan dan habitat yang baik untuk bertengger dan bersarang. Mereka makan kepiting, ikan dan moluska atau hewan lain yang hidup di habitat mangrove.

Kelompok lain yang bukan hewan arboreal adalah hewan-hewan yang hidupnya menempati daerah dengan substrat yang keras (tanah) atau akar mangrove maupun pada substrat yang lunak (lumpur). Kelompok ini antara lain adalah jenis kepiting mangrove, kerang-kerangan dan golongan invertebrata lainnya.

Adaptasi vegetasi hutan mangrove yang unik menyebabkan mangrove dapat tumbuh pada daerah yang cukup ekstrim bagi sebagian besar tanaman, yaitu daerah dengan kadar oksigen rendah, salinitas (kadar garam) yang tinggi dan dipengaruhi pasang surut air laut. Menurut Bengen (2002), adaptasi vegetasi hutan mangrove dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

A. Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah; dengan memiliki bentuk perakaran yang khas (tipe cakar ayam/pasak dengan pneumatofora dan tipe tongkat/tunjang dengan lentisel untuk mengambil oksigen dari udara);

B. Adaptasi terhadap kadar garam tinggi; memiliki sel-sel khusus dalam daun untuk menyimpan garam, daun tebal dan kuat yang banyak mengandung air untuk menjaga keseimbangan garam dan memiliki stomata khusus untuk mengurangi penguapan;

C. Adaptasi terhadap tanah yang tidak stabil dan pasang surut; mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horizontal yang lebar untuk memperkokoh pohon dan mengambil unsur hara serta menahan sedimen.

sumber : jurnal yang ditulis oleh Syaiful Eddy, S.Si (Dosen Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas PGRI Palembang)

Rabu, 07 Juli 2010

ACROPORA YANG MENAWAN


DEFENISI
Acropora adalah genus scleractinian karang dalam Filum Cnidaria , juga dikenal sebagai karang meja, karang Elkhorn , atau staghorn karang .
ANATOMI DAN DISTRIBUSI
Tergantung pada jenis dan lokasi, Acropora dapat tumbuh sebagai piring atau langsing atau cabang yang luas. Seperti karang lainnya, karang Acropora merupakan koloni individu yang dikenal sebagai polip, yang sekitar 2 mm di dan berbagi jaringan dan bersih saraf . Polip dapat menarik kembali ke karang dalam menanggapi gerakan atau gangguan oleh predator mungkin, tapi ketika mereka tidak terganggu sedikit menonjol. Polip biasanya memperpanjang lebih lanjut di malam hari saat mereka menangkap zooplankton dari air.

Acropora paling umum di lingkungan terumbu dangkal dengan cahaya terang dan sedang hingga gerakan air yang tinggi. Banyak ikan karang kecil tinggal di dekat koloni Acropora dan mundur ke dalam rumpun cabang jika terancam.

Karang ini memiliki zooxanthellae , simbiosis alga yang hidup di karang ' sel-sel dan menghasilkan energi untuk hewan melalui fotosintesis . Kerusakan lingkungan telah menyebabkan berkurangnya populasi dari Acropora, bersama dengan spesies karang lainnya. Acropora terutama rentan terhadap pemutihan saat stres.Pemutihan ini disebabkan oleh hilangnya zooxanthellae karang itu, yang warna coklat emas. karang Dikelantang yang dingin putih dan mungkin mati jika zooxanthellae baru tidak dapat berasimilasi. Penyebab umum pemutihan dan kematian karang termasuk polusi, suhu normal air hangat, meningkat pengasaman laut, sedimentasi, dan eutrofikasi.
UNTUK DOWNLOAD FILE GAMBAR ACROPORA ASPERA DI SINI

Hubungan antara ekosistem


Hubungan dinamis dalam ekosistem melibatkan beberapa komponen-komponen. Komponen-komponen tersebut dapat dilihat dari dua aspek yang berbeda, yaitu dari aspek jenjang makan (trophic level/chain food level) dan aspek kehidupan. Dari aspek jenjang makan, ekosistem terdiri dari komponen autotrofik dan komponen heterotrofik, yang ditekankan pada level transfer energi. Sedangkan dari aspek kehidupan, ekosistem terdiri dari komponen biotik dan komponen abiotik yang berkaitan erat dan memiliki hubungan timbal balik satu dengan lainnya. Hubungan antar komponen ekosistem merupakan hubungan yang bersifat tetap teratur dan merupakan satu kesatuan yang saling pengaruh mempengaruhi, sehingga ekosistem merupakan ekosistem erupakan konsep sentral atau inti daripada ekologi. Hubungan tersebut juga bersifat netral, mutualistik dan adaptif, namun ada pula yang bersifat menguasai komponen lain. Pada akhirnya alamlah menentukan adanya keserasian dan keseimbangan dalam interaksi antar komponen ekosistem tersebut. Bagaimanapun juga, ekosistem akan cenderung melawan perubahan untuk memelihara keseimbangannya, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Ekosistem memiliki kecenderungan melawan perubahan akibat hubungan antar komponen dan terus menerus memelihara keseimbangan, disebut sebagai eosistem yang berada dalam keadaan homeostatis. Ekosistem merupakan suatu fungsional dasar dalam ekologi, mengingat bahwa di dalamnya tercakup organisme dan lingkungan abiotik yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Ekosistem juga merupakan benda nyata memiliki ukuran yang beraneka menurut tingkat organisasinya.