Jumat, 04 Maret 2011

tahapan perencanaaan pengelolaan sumberdaya perikanan

1) Identifikasi isu dan masalah
Tahapan awal dari rencana pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu identifikasi isu dan masalah, kerusakan ekosistem akibat alat yang tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom, penggunaan bom berdampak pada penurunan stok yang ditandai pada menurunnya hasil tangkapan nelayan, diversitas ikan, dan lain-lain. Salah satu identifikasi isu dan masalah yaitu degradasi ekosistem karang yang dapat disebabkan oleh gangguan antropogenik misalnya kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.
Selain itu isu dan masalah dapat diidentifikasi dengan melihat hasil tangkapan pada beberapa jenis populasi ikan tertentu yang mulai mengalami penurunan. Misalnya berdasarkan data hasil penelitian, jumlah hasil tangkapan ikan tuna di selat Makassar setiap tahunnya mengalami penurunan akibat overfishing.

2) Perumusan tujuan dan sasaran
Langkah kedua dalam perencanaan pengeloaan sumberdaya perikanan yaitu Perumusan tujuan berdasarkan masalah yang diidentifikasi baik dari beberepa aspek misalnya segi ekologi, biologi, social ekonomi, peraturan dan kelembagaan yang berdampak pada stok dengan tujuan akhir diharapkan bisa menyelesaikan masalah yang ada. Termasuk kontribusi terhadap sosial ekonomi masyarakat nelayan. Dalam perumusan tujuan dan sasaran dilakukan secara bersama antara pemegang otoritas dan stakeholders yang ikut dalam wilayah yang menjadi target untuk pengelolaan termasuk keterkaitan disiplin ilmu ikut dalam perumusan tersebut. Perumusan tujuan harus dalam bentuk target jangka pendek dan jangka panjang.
Perumusan tujuan dan sasaran harus berada pada proporsi menjaga keseimbangan ekosistem/habitat, menjaga kapasitas keberlanjutan, alokasi sumberdaya secara optimal, mengurangi konflik, terlebih dapat menguntungkan secara ekonomi dan lain sebagainya. Dari perumusan tujuan ini juga diharapkan dapat meningkatkan produksi, pendapatan, lapangan kerja, ekonomi, dan keberlanjutan sumberdaya.

3) Pengumpulan data dan informasi
Sumber data dan informasi ada dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui proses pengambilan data secara langsung dilapangan melalui riset, penelitian, wawancara, dan lain-lain. Sedangkan data sekunder dapat diperoleh melalui data yang sudah ada pada lembaga-lembaga terkait misalnya dinas kelautan dan perikanan, perguruan tinggi, perusahaan/industri, dan lembaga swadaya masyarakat.
salah satu contoh data yang diperlukan misalnya kondisi tutupan karang di pulau barrang lompo.

4) Analisis data dan informasikan
Analisis data dan informasi menjadi acuan dalam merumuskan rencana pengelolaan sumberdaya perikanan misalnya untuk mengetahui potensi lestari suatu kawasan perairan dapat dihitung dengan model Maximum Sustainable Yield (MSY). Dengan model MSY dapat diasumsikan hasil tangkapan maksimum pada periode tertentu tidak menurunkan hasil tangkapan periode berikutnya, karena cadangan sisa dapat memulihkan stok. Selain itu MSY cocok pada spesis tunggal, tapi ada juga menerapkan pada multispesis atau total biomassa suatu wilayah pengelolaan.
Namun dapat juga dilakukan Optimum sustainable Yield. Konsep OSY pada dasrnya berdasar pada konsep MSY dengan tujuan lebih luas tidak terbatas pada keberlanjutan sumberdaya tetapi termasuk keuntungan dan kerugian sosial, ekonomi, ekologi, biologi, teknologi, hukum, baik pada perikanan komersil maupun rekreasi.

5) Konsultasi, negosiasi dan musyawarah
Konsultasi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan memerlukan mekanisme yang bersifat lintas disiplin dalam mengkaji kebutuhan dan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan. Dengan mekanisme ini akan menghasilkan suatu kajian yang bersifat interdisiplin. Hal ini dapat dilihat pada beberapa hasil kajian yang menguraikan beberapa aspek fisik lingkungan hingga aspek sosial, ekonomi, kelembagaan dan sarana wilayah. Tidak lepas dari itu, musyawarah dilakukan dengan melibatkan antara otoritas pengelola dan stakeholders secara regular.
Konsultasi, negosiasi dan musyawarah dimulai dari identifikasi masalah, perumusan tujuan, peraturan, program, perbaikan, dan laporan kondisi dan keragaan pengelolaan sumberdaya kepada pemberi otoritas.

6) Penetapan alokasi sumberdaya
Lewat hasil kajian dan data yang diperoleh, dilakukan alokasi berdasarkan perimbangan nelayan, potensi sumberdaya, mencegah konflik pengguna sumberdaya dan alokasi pemanfaatan sumberdaya berdasarkan ruang dan waktu.
Dasar dalam penetapan alokasi sumberdaya misalnya berdasarkan hasil analisis potensi lestari perairan selat Makassar berdasrkan potensi lestari model MSY dimana dapat diasumsikan hasil tangkapan pada periode tertentu dan tidak menurunkan hasil tangkapan periode berikutnya karena sisa cadangan dapat memulihkan stok, dengan penetapan alokasi sumberdaya seperti ini akan lebih optimal dalam menjaga keberlanjutan produksi sumberdaya perikanan.

7) Perumusan peraturan
Dalam perumusan peraturan pengelolaan sumberdaya perikanan perlu memuat tentang:
‐ Peraturan pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian.
‐ Peraturan bersifat saling mendukung dan tidak menimbulkan tumpang tindih yang dapat berdampak pada timbulnya konflik pemahaman stakeholders.
‐ Sifat dan ruang lingkup tugas, hak, kewajiban pengelola, stakeholders, mitra perikanan.
‐ Syarat-syarat input seperti izin penangkapan (jenis alat, jumlah alat, waktu, daerah, ukuran, subsidi, permodalan. serta syarat-syarat output seperti (ukuran ikan, jumlah tangkapan, retribusi, pajak hasil tangkapan dan lain-lain.
‐ Rumusan peraturan terdiri dari lebih dari satu alternatif.

8) Pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dan disepakati bersama dengan tetap merujuk pada tujuan dan sasaran yang dimuat sebelumnya.

9) Sosialisasi dan Penegakan peraturan
Dalam melaksanakan kegiatan perlu adanya sosialisasi yang efektif dengan maksud semua pihak yang terlibat didalamnya memahami dan menaati perturan yang sudah ditetapkan. Dan lebih lanjut penegakan pelaksanaan peraturan dalam pengelolaan perikanan. Peraturan secara nasional yang tertuang lewat UU termasuk setiap daerah memiliki peraturan sendiri dalam mengelola wilayah dan sumberdaya perikanan berdasarkan otonomi daerah.
10) Monitoring dan evaluasi
Dalam pelaksanaan yang bersifat sustainable perlu adanya monitoring dan evaluasi untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan dan target yang ditetapkan. Kemudian dalam monitoring dan evaluasi dilakukan dalam bentuk jangka pendek dan jangka panjang. Hasil dari monitoring ini menjadi bahan untuk dilakukan perbaikan kegiatan

11) Perbaikan kegiatan
Melakukan langkah perbaikan (perubahan) program dan peraturan jika ditemukan penyimpangan dalam pencapaian tujuan sesuai hasil monitoring dan evaluasi.
Misalnya pada target hasil produksi penangkapan ikan layang di perairan selat Makassar mengalami penurunan setiap periode waktu yang sebelumnya diharapkan akan tetap pada titik

Dengan melaksanakan seluruh tahapan pengelolaan di atas maka akan terbentuk menjadi sebuah siklus dalam managemen sumberdaya perikanan yang berkelanjutan.

penulis : arnold kabangnga
editor : irfan alwi


Minggu, 20 Februari 2011

Pentingnya pengetahuan oseanografis dalam pengelolaan sumberdaya perikanan


Dalam kehidupan masyarakat pesisir sering kali terdapat permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dimana slaah satu objek yang menjadi sorotan penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu kondisi oseanografis suatu daerah yang menjadi pusat pengelolaan sumberdaya perikanan.

perbedaan kondisi oseanografis di setiap pulau ataupun daerah disebabkan perbedaaan kondisi oseanografis, sedikt saja terjadi perbedaan kondisi geografis maka akan mengakibatkan maka akan menyebabkan perbedaan kondisi oseanografis. kita lihat realitas yang ada. perbandingan antara keberadaan ekosistem yang ada di pulau samalona dengan pulau saogi, pada pulau saogi terdapat 3 ekosistem yang memiliki peranan penting dalam keseimbangan ekosistem yakni :
1. padang lamun
2. terumbu karang
3. hutan mangrove
sedangkan di pulau samalona hanya terdapat terumbu karang dan sedikit padang lamun, hal ini jelas memperlihatkan bahwa kondisi oseanografis sangat mempengaruhi keberadaan ekosistemdi sebuak kawasan pesisir.

merujuk dari hal di atas maka dalam pengelolaan sumberdaya perikanan kita harus memperhatikan aspek oseanografis yang memiliki peranan yang sangat besar terhadap keberhasilan pengelolaan sumberdaya perikanan yang dilaksanakan. untuk contoh yang lebih spesifik lagi yaitu pada program pembuatan program biorock pada suatu wilayah perairan laut, dimana untuk mencapai keberhasilan program biorock itu haruslah memenuhi standar kehidupan karang yang ada, mislanya suhu harus18- 28 'C

Senin, 27 Desember 2010

sekilas tentang potensi desa palette

ket : wisata tanjung palette

Setiap daerah memiliki potensi masing masing yang jika di kelola dengan baik maka akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,pada postingan kali ini saya akan membahas kondisi ekonomi dan potensi yang ada di desa palette. Desa pelette merupakan salah satu desa yang ada di kabupaten Bone. Desa Palette mempunyai luas wilayah 4.000 km2 dan jumlah penduduknya 1.689 jiwa yang terdiri dari 144 kepala keluarga. Sebagian besar masyarakat Palette bermata pencaharian sebagai nelayan tangkap dan petani rumput laut hal ini dikarenakan sebagian wilayah di desa Palette di dominasi oleh pantai.
Adapun aspek-aspek ekonomi atau potensi daerah yang ada di desa palette antara lain :

1. Rumput Laut
Rumput laut telah dikenal sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu di Indonesia maupun di mancanegara. Pada umumnya rumput laut digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, namun seiring dengan berkembangnya IPTEK dewasa ini rumput laut dapat di kembangkan dan manfaatkan dalam berbagai macam industri misalnya tekstil, kosmetik, dan industri kefarmasian.
Rumput laut merupakan salah satu komoditas marikultuer yang saat ini sedang dikembangkan dan merupakan salah satu program pengembangan ekonomi pesisir kelurahan Pallete. Rumput laut merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan mengingat nilai gizi yang dikandungnya. Selain itu, rumput laut dapat dijadikan sebagai bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue, dodol rumput laut dan sebagainya.
Hasil kering dari rumput laut yang ada di Kelurahan Pallete bisa mancapai 11.000/kg dan basah 3.000/kg. Dengan adanya pengembangan budidaya rumput laut ini juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan di Pallete. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu prioritas utama masyarakat sebagai sumber pendapatan keluarga guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

2. Penggunaan Setnet
Alat tangkap berupa Setnet yang ada di Kelurahan Pallete merupakan hasil bantuan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Dengan adanya alat tangkap set net tersebut maka masyarakat nelayan di Pallete lebih mudah dan efisien dalam melakukan penangkapan ikan. Setnet dikatakan memiliki nilai ekonomi karena berperan penting membantu masyarakat nelayan Pallete dalam penangkapan ikan. Keuntungan menggunakan setnet antara lain :
o Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu berlayar jauh untuk mencari daerah penangkapan.
o Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung (shelter) ikan-ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.
o Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai dengan kebutuhan pasar.
o Mudah dipindahkan dibanding dengan jenis trap yang ada di Indonesia.
o Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah
Dengan adanya setnet kerja masyarakat sedikit terbantu dan tidak merasa terlalu berat dalam melakukan penangkapan, setelah penangkapan selesai maka masyarakat sekitar membagi hasil dengan pemilik kapal yang digunakan dalam proses penangkapan sesuai hasil kesepakatan.

3. Pariwisata
Objek pariwisata yang ada di suatu daerah atau lokasi dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Objek wisata yang ada di Kelurahan Pallete berupa pantai atau yang lebih dikenal dengan Tanjung Pallete. Dengan adanya objek pariwisata tersebut masyarakat sekitar dapat memanfaatkannya sebagai salah satu tempat untuk menghasilkan uang. Masyarakat sekitar Kelurahan Pallete ada yang bekerja sebagai petugas kebersihan pantai dengan pendapatan 500.000 per bulannya. Selain itu masyarakat sekitar dapat menggunakan tempat atau objek wisata tersebut dengan berjualan disekitar objek wisata atau pelayanan masyarakat yang berkunjung di objek wisata tersebut. Meskipun demikian tidak terlalu banyak sumbangsih yang diberikan objek wisata tersebut kepada masyarakat sekitar akan tetapi setidaknya ada sebagian kecil masyarakat yang dapat merasakan pengaruh dari keberadaan objek wisata yang ada di desa Palette, kabupaten Bone.

Permasalahan ekonomi sumber daya perikanan di Palette
Terdapat beberapa permasalahan yang timbul dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di desa palette, kabupaten Bone. Adapun permasalahannya tersebut antara lain adalah adanya sekelompok masyarakat melakukan penangkapan secara ilegal. Kegiatan tersebut banyak dilakukan oleh masyarakat daerah lain atau daerah tetangga di desa palette. Mereka melakukan penangkapan ikan yang tidak berwawasan ramah lingkungan, sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, hal ini sesuai dengan (http://www.scribd.com. Pengelolaan dan permasalahan SDA, 2010) yang menyatakan bahwa maraknya pencurian ikan secara ilegal (ilegal fishing) oleh kapal asing merupakan fenomena yang kontras dan menyakitkan hati masyarakat kita. Betapa tidak kekayaan laut kita dengan seenaknya dirampas oleh nelayan asing, sementara nelayan kita tidak bisa menikmati hasil laut sendiri.

Ilegal fishing yang dilakukan oleh para nelayan diluar perairan Palette dan cenderung bersifat merusak yakni melakukan penangkapan dengan menggunakn alat penangkapan yang tidak ramah lingkungan tentunya memberikan dampak yang kurang baik terhadap ekosistem dan keberadaan spesies yang bernilai ekonomis penting maka dari itu tentunya sangat diperlukan perundang-undangan yang jelas dalam upaya mengatur dibidang penangkapan hal ini sesuai dengan (Eko, 2010) Banyak faktor yang teridentifikasi sebagai penyebab terjadinya illegal fishing di perairan indonesia yaitu: (1) Luasnya potensi laut yang belum terolah, (2) Peluang bisnis ikan yang menggiurkan, (3) Kelemahan penegakan hukum, (4) Mentalitas aparat, dan (5) Hambatan dari faktor perundang-undangan.
Selain permasalahan tersebut pada awal tahun 2007 terjadi konflik kepentingan antara pengguna lalu lintas laut dengan petani rumput laut. Karena pengguna lalu lintas sulit untuk lewat di daerah sekitar perairan karena terhalanh oleh pelampung-pelampung dan tali-tali dari pembudidayaan rumput laut. Hal tersebut sesuai dengan (http://dislutkan.ntb.go.id/web/content/view/34/44/, 2010) yang menyatakan bahwa belum tuntasnya pengaturan tata ruang wilayah sehingga seringkali menimbulkan konflik kepentingan terhadap sumberdaya perikanan dan kelautan baik antar sektor (perikanan, pariwisata, pertambangan, perhubungan dan lainnya) maupun antar subsektor/komoditas (tambak, udang, mutiara, rumput laut, konservasi). Melihat hal tersebut, maka pemerintah mengambil jalan tengah dalam pemecahan masalahnya yaitu membentuk blok-blok yang satu blok nya terdiri dari 10 orang petani, dan kemudian dibuat jarak antar blok-blok agar para pengguna kapal nelayan bisa lewat diantara jarak tersebut.



Sabtu, 25 Desember 2010

dampak pencemaran di laut


Pada postingan blog saya yang lalu telah saya jelaskan mengenai komposisi air laut yang dimana terkandung zat zat kimia tertentu, nah sekarang saya sedikit memberi informasi mengenai dampak dari Masuknya bahan bahan pencemar kedalam perairan laut….?
Adapun dampak dari masuknya bahan pencemar di dalam laut yakni :

Pertama, terganggunya keindahan
Dengan semakin banyaknya zat organic yang di hasilkan oleh industry akan terjadi pembusukan., akibatnya timbul bau yang sangat mengganggu. Selain itu, warna air yang menjadi kotor akan menimbulkan pemandangan yang tidak nyaman.

Kedua, berkurangnya kualitas perairan
Sebagaimana halnya manusia, makan untuk kelangsungan hidupnya, biota lautpun tidak jauh berbeda dengan manusia, mereka pun membutuhkan makanan yang berkualitas. Dengan banyaknya bahan pencemar yang masuk kedalam perairan akan menurunkan kualitas perairan yang pada akhirnya akan mengganggu proses kehidupan biota didalamnya.

Ketiga, kematian ikan secara missal
Akhir akhir ini kita melihat diberitakan terjadi kematian ikan secara missal di beberapa perairan di sekitar kota besar, seperti salah satu contoh kasus yakni teluk Jakarta, tiba tiba saja beribu ribu ikan mengambang mati di permukaan laut, menurut beberapa peneliti, penyebab kematian ikan tersebut, antara lain akibat dari keracunan oleh bahan pencemar seperti : logam berat, senyawa ammonia, pestisida, atau karena tingginya kandungan zat hara dalam perairan terutama fosfat.

Di laut lepas, yang secara fisik tampak bersih sekalipun, dapat terjadi pencemaran oleh minyak akibat terjadinya kecelakaan kapal kapal ytangker yang mengangkut minyak mentah dan menumpahkan muatnaya kelaut.

Sumber : Pratiwi, R., dkk., 2008. Pesona Laut Kita.Jakarta:COREMAP-LIPI.